Oleh: Ramadhan*
Dua pasukan yang saling bekerjasama
lebih baik dari pada dua pemimpin yang berseberangan. Disinilah pentingnya
harmonisasi seorang pemimpin. Dengan harmoni pemimpin akan mampu banyak berbuat
untuk mensejahterakan rakyat. Para pemimpin sangat kita harapkan adalah
pemimpin yang kompak dan tidak saling berseberangan. Toh kalaupun ada
perbedaan, kembalilah ke misi awal bahwa kepentingan sesungguhnya menjadi
pemimpin adalah untuk mensejahterakan rakyat.
Pemilihan kepala daerah dibeberapa
tempat sudah dilaksanakan. Tehnik menarik simpati juga dilakukan dengan
berbagai macam cara. Ada yang membagi-bagikan kalender, stiker, uang sumbangan
kelompok pengajian/majelis-majelis ta’lim, uang sumbangan ke masjid dan masih
banyak cara-cara yang lain. Sebagai rakyat harapan mereka hanya satu yaitu bagaimana
mereka sejahtera dengan kepemimpinannya.
Karena dizaman sekarang ini bukan hal
yang asing lagi bahwa menjadi seorang pemimpin tidak lain tujuannya adalah untuk
memperkaya diri sendiri. Memiliki investasi masa depan yang sebanyak-banyaknya.
Sehingga untuk mencapai apa yang diinginkan calon pemimpin tidak segan-segan
mengeluarkan dana yang tidak sedikit. Dibeberapa tempat menjadi hal biasa calon
pemimpin mengeluarkan biaya ratusan juta rupiah bahkan triliunan rupiah. Dengan
satu harapan apa yang dicita-citakan tercapai.
Berbeda jauh dengan apa yang di lakukan
oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Orang-orang tidak berlomba-lomba untuk
menduduki suatu kekuasaan. Karena baginya menduduki suatu kekuasaan adalah
kehinaan. Hina di hadapan Allah karena takut tidak mampu berbuat adil sesuai
dengan apa yang telah digariskan olehNya. Pada saat itu benar-benar para
pemimpin melayani rakyat dengan sebaik-baiknya.
Sebagai contoh, kita mungkin
mengetahui apa yang dilakukan khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Beliau adalah
orang yang kaya sebelum menjadi pemimpin. Tapi setelah beliau menjadi pemimpin
beliau adalah orang yang miskin. Karena beliau lebih mengutamakan kepentingan
rakyat daripada kepentingan drinya. Harta yang dia miliki adalah untuk kesejahteraan
orang banyak. Sehingga wajarlah diakhir hayatnya beliau ketika memberikan hartanya
untuk kepentingan kaum muslimin. Yang ditinggalkan buat keluarganya adalah apa
yang melekat di tubunnya.
Demikian juga halnya seperti Umar bin
Abdul Aziz. Beliau dalam jangka waktu hanya dua tahun bisa mensejahterakan
rakyat dan rakyatnya mampu keluar dari kemiskinan yang dialami sebelum dia
menjadi pemimpin. Dan pada saat itu beliau adalah orang yang sederhana. Jauh
dari glamour layaknya pemimpin Negara yang ada di akhir zaman ini.
Tapi sekarang sungguh jauh berbeda
dengan apa yang terjadi di masa-masa Rasulullah SAW dan para sahabat-sahabatnya
itu. Zaman ini banyak diantara pemimpin yang bangga memposisikan dirinya
sebagai orang yang dihormati karena jabatan yang dimilikinya. Pemimpin kita
berlomba-lomba memperkaya diri dengan harapan modal yang dikeluarkan pada
saat-saat kampanye dapat kembali. Inilah realita yang terjadi saat ini tidak
ada satupun pemimpin kita yang tidak hidup wah! Kalaupun ada itupun jumlahnya
sangat-sangat sedikit.
Pemimpin Teladan
Suatu hari pada masa pemerintahan
Umar bin Kahattab ra. Menjadi kebiasaan beliau mengunjungi rakyatnya. Pada
malam yang larut itu khalifah umar berjalan ditemani oleh seorang sahabatnya.
Umar berjalan dari pintu ke pintu rumah warga, khalifah berfikir barangkali ada
warganya yang kurang beruntung malam itu. Tak diyana, peristiwa yang sangat
menggugah terjadi pada malam yang sunyi sepi. Saat itu ada dua orang anak
bersama dengan ibunya, kedua anak itu merengek-rengek sedang meminta makan
kepada ibunya. Kedua anak tersebut mengatakan lapar….lapar….lapar….hati siapa
yang tidak tersentuh dengan keadaan sang ibu dan kedua anaknya.
Saat itu beliau sendiri yang membawa
apa yang menjadi kebutuhan ibu yang kurang beruntung malam itu juga. Ketika sahabat yang
menemaninya sidak malam itu berinisiatip membantu. Untuk memikul apa yang ada
dipundak sang khalifah. Khalifah Umar mengatakan. Apakah engkau sanggup
menanggung balasan yang akan ditimpakan oleh Allah SWT kepada saya. Disebabkan
saya memberikan tugas ini kepada engkau wahai sahabatku. Sedangkan ini adalah
sebagai kewajiban pemimpin untuk
melayani rakyat. Sahabatnya pada saat itu gemetar dengan apa yang disampaikan
khlaifah Umar kepadanya.
Menjadi pemimpin tidaklah mudah, perlu
keterampilan yang unik untuk menjadikan rakyat yang dipimpinnya menjadi rakyat
yang berdaya. Menjadi pemimpin adalah menciptakan budaya kerja yang
berkesinambungan. Bukan bekerja pada saat ada kepentingan-kepentingan yang
menyesatkan. Pemimpin harus mengedepankan kepentingan bersama yaitu semata-mata
untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang
dapat melahirkan pelanjut kepepimpinannya.
Karena itulah pemimpin itu harus
terus belajar dari siapapun karena para pemimpin itu pada hakekatnya adalah pelayan
rakyat. Bukan di layani rakyat. Pemimpin harus pandai berinovasi, karena dengan
inovasi itu pemimpin semakin di cintai oleh rakyat yang dipimpinnya. Dizaman
sekarang ini para pemimpin memiliki kecenderungan mau lebih banyak di layani
daripada melayani. Pemmpin itu harus bertindak cepat dalam mengatasi
masalah-masalah yang terjadi ditengah-tengah masyarakat.
Pemimpin Dambaan Rakyat
Saat ini memperoleh pemimpin yang mau
terus berinteraksi dengan rakyat sangatlah susah. Menjadi pemimpin sesungguhnya
adalah menjadi pelayan rakyat. Tapi sungguh jauh saat ini para pemimpin sebaliknya
menjadi pemimpin yang di layani oleh rakyat. Padahal rakyatlah yang
sesungguhnya menjadi orang yang patut dilayani.
Suatu kasus ada seorang pemimpin yang
tidak mau menemui rakyatnya padahal dengan dialah sesungguhnya dia ingin
ketemu. Tapi karena alasan kesibukan dia lebih memilih untuk tidak menemui
rakyatnya. Nah, seungguhnya ini tidak boleh terjadi dalam kepemimpinannya. Saat
ini krisis kepemimpinan di negara ini sudah bukan barang langka. Karena itu
menjadi pemimpin yang dicintai oleh rakyat sangat di perlukan saat-saat ini.
Kemerosotan akhlak para pemimpin yang
terjerat kasus korupsi. Yang terus terjadi tanpa ada ujungnya. Entah sampai
kapan? Belum lagi selesai kasus korupsi pempimpin yang satu muncul lagi kasus
korupsi pemimpin yang lain. Sudah banyak solusi yang dilakukan oleh pemerintah
kita melalui lembaga yang bernama komisi pemberantasan korupsi (KPK) tapi seiring
dengan itu juga koruptor-koruptor baru terus bermunculan. Dari tingkat pusat
sampai daerah. Barangkali perlu kita meniru apa yang di lakukan oleh perdana
menteri (PM) Cina beberapa tahun yang lalu apa yang dilakukan saat itu sungguh
sangat mencengangkan. Karena pada saat itu PM Cina menyiapkan satu peti mati
untuk dirinya seandainya dia melakukan korupsi.
Momentum Ramadhan & Pemimpin Berkarakter
Menjadi pemimpin yang berkarakter adalah
suatu keharusan. Terlebih pulau ini sudah sangat dikenal dengan semboyan. Pulau
seribu masjid sejuta pesantren. Kedepan rakyat berharap para pemimpin bukan
hanya minta dilayani oleh rakyat tapi harus menjadi orang yang melayani rakyat yaitu
dengan cara memperjuangkan apa yang menjadi kepentingan-kepentingannya.
Banyak sejarah-sejarah besar yang
terjadi didalam bulan suci Ramadhan. Indonesia tercinta ternyata juga berhasil
meraih kemerdekaan didalam bulan mulia ini. Peristiwa penaklukan Andalusia yang
dilakukan oleh panglima perang Thariq bin Ziyad juga terjadi pada bulan
Ramadhan tahun ke 92 Hijriyah. Dan dalam sejarah Islam juga kita kenal dengan
fathu makkah yang juga terjadi pada bulan Ramadhan. Dan masih banyak
peristiwa-peristiwa besar yang terjadi dalam bulan Ramadhan.
Nah momentum Ramadhan tahun ini
barangkali sangat tepat merubah perilaku kita sebagai seorang pemimpin yang kurang
dicintai menjadi lebih dicintai oleh rakyat. Tentu disini dengan mengencangkan
kuantitas dan kualitas nilai ibadah kita dihadapan Allah SWT, ibadah qiyam
Ramadhan (tarawih) kita, tilawah Al qur’an, melanggengkan bersedekah kepada
ornag yang papa. Dan kebaikan-kebaikan lain yang dapat mendekatkan diri kita
kepada Allah SWT.
Sehingga harapan kita menjadi seorang
pemimpin teladan bukan hanya wacana. Tapi insyaAllah ini benar-benar akan
menjadi kenyataan sesuai dengan fakta sejarah yang terjadi didalam bulan Ramadhan
bahwa peristiwa-peristiwa penting terjadi dalam bulan mulia ini. Sehingga
benar-benar nanti ketika terpilih menjadi pemimpin yang dipilih oleh rakyat
dapat menjadi teladan dalam melakukan amal-amal kebaikan untuk mewujudkan
perubahan-perubahan yang lebih baik.
Sehingga dengan tercapainya predikat
takwa yang telah dijanjikan oleh Allah kepada hamba-hambaNya. Tidak menjadi hal
yang mustahil lagi bagi kita. Sehingga apa yang dijanjikan Allah didalam Al
Qur’anNya. Yaitu suatu negeri yang apabila penduduknya adalah orang-orang yang
taat dan beriman kepada Allah SWT., maka benar-benar Allah akan menganugerahkan
kepada para penduduk negeri atau kota itu dengan kebaikan yang banyak (keberkahan).
Sebagai renungan Firman Allah SWT.,
dalam Qur’an Surat Al A’raf ayat 96 yaitu: “Seandainya pendududk negeri-negeri
beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari
langit” InsyaAllah!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar