Jumat, 19 Juli 2013

Artikel Menarik 2 di Muat Bersambung di Radar Lombok Edisi 17, 18 dan 19 Juli 2013





Pemimpin  yang Berkarakter
Oleh: Ramadhan*
  Dua pasukan yang saling bekerjasama lebih baik dari pada dua pemimpin yang berseberangan. Disinilah pentingnya harmonisasi seorang pemimpin. Dengan harmoni pemimpin akan mampu banyak berbuat untuk mensejahterakan rakyat. Para pemimpin sangat kita harapkan adalah pemimpin yang kompak dan tidak saling berseberangan. Toh kalaupun ada perbedaan, kembalilah ke misi awal bahwa kepentingan sesungguhnya menjadi pemimpin adalah untuk mensejahterakan rakyat.
  Pemilihan kepala daerah dibeberapa tempat sudah dilaksanakan. Tehnik menarik simpati juga dilakukan dengan berbagai macam cara. Ada yang membagi-bagikan kalender, stiker, uang sumbangan kelompok pengajian/majelis-majelis ta’lim, uang sumbangan ke masjid dan masih banyak cara-cara yang lain. Sebagai rakyat harapan mereka hanya satu yaitu bagaimana mereka sejahtera dengan kepemimpinannya.
   Karena dizaman sekarang ini bukan hal yang asing lagi bahwa menjadi seorang pemimpin tidak lain tujuannya adalah untuk memperkaya diri sendiri. Memiliki investasi masa depan yang sebanyak-banyaknya. Sehingga untuk mencapai apa yang diinginkan calon pemimpin tidak segan-segan mengeluarkan dana yang tidak sedikit.  Dibeberapa tempat menjadi hal biasa calon pemimpin mengeluarkan biaya ratusan juta rupiah bahkan triliunan rupiah. Dengan satu harapan apa yang dicita-citakan tercapai.
   Berbeda jauh dengan apa yang di lakukan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Orang-orang tidak berlomba-lomba untuk menduduki suatu kekuasaan. Karena baginya menduduki suatu kekuasaan adalah kehinaan. Hina di hadapan Allah karena takut tidak mampu berbuat adil sesuai dengan apa yang telah digariskan olehNya. Pada saat itu benar-benar para pemimpin melayani rakyat dengan sebaik-baiknya.
   Sebagai contoh, kita mungkin mengetahui apa yang dilakukan khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Beliau adalah orang yang kaya sebelum menjadi pemimpin. Tapi setelah beliau menjadi pemimpin beliau adalah orang yang miskin. Karena beliau lebih mengutamakan kepentingan rakyat daripada kepentingan drinya. Harta yang dia miliki adalah untuk kesejahteraan orang banyak. Sehingga wajarlah diakhir hayatnya beliau ketika memberikan hartanya untuk kepentingan kaum muslimin. Yang ditinggalkan buat keluarganya adalah apa yang melekat di tubunnya.
   Demikian juga halnya seperti Umar bin Abdul Aziz. Beliau dalam jangka waktu hanya dua tahun bisa mensejahterakan rakyat dan rakyatnya mampu keluar dari kemiskinan yang dialami sebelum dia menjadi pemimpin. Dan pada saat itu beliau adalah orang yang sederhana. Jauh dari glamour layaknya pemimpin Negara yang ada di akhir zaman ini.
   Tapi sekarang sungguh jauh berbeda dengan apa yang terjadi di masa-masa Rasulullah SAW dan para sahabat-sahabatnya itu. Zaman ini banyak diantara pemimpin yang bangga memposisikan dirinya sebagai orang yang dihormati karena jabatan yang dimilikinya. Pemimpin kita berlomba-lomba memperkaya diri dengan harapan modal yang dikeluarkan pada saat-saat kampanye dapat kembali. Inilah realita yang terjadi saat ini tidak ada satupun pemimpin kita yang tidak hidup wah! Kalaupun ada itupun jumlahnya sangat-sangat sedikit.
 
     Pemimpin Teladan
   Suatu hari pada masa pemerintahan Umar bin Kahattab ra. Menjadi kebiasaan beliau mengunjungi rakyatnya. Pada malam yang larut itu khalifah umar berjalan ditemani oleh seorang sahabatnya. Umar berjalan dari pintu ke pintu rumah warga, khalifah berfikir barangkali ada warganya yang kurang beruntung malam itu. Tak diyana, peristiwa yang sangat menggugah terjadi pada malam yang sunyi sepi. Saat itu ada dua orang anak bersama dengan ibunya, kedua anak itu merengek-rengek sedang meminta makan kepada ibunya. Kedua anak tersebut mengatakan lapar….lapar….lapar….hati siapa yang tidak tersentuh dengan keadaan sang ibu dan kedua anaknya.
   Saat itu beliau sendiri yang membawa apa yang menjadi kebutuhan ibu yang kurang  beruntung malam itu juga. Ketika sahabat yang menemaninya sidak malam itu berinisiatip membantu. Untuk memikul apa yang ada dipundak sang khalifah. Khalifah Umar mengatakan. Apakah engkau sanggup menanggung balasan yang akan ditimpakan oleh Allah SWT kepada saya. Disebabkan saya memberikan tugas ini kepada engkau wahai sahabatku. Sedangkan ini adalah sebagai kewajiban  pemimpin untuk melayani rakyat. Sahabatnya pada saat itu gemetar dengan apa yang disampaikan khlaifah Umar kepadanya.
   Menjadi pemimpin tidaklah mudah, perlu keterampilan yang unik untuk menjadikan rakyat yang dipimpinnya menjadi rakyat yang berdaya. Menjadi pemimpin adalah menciptakan budaya kerja yang berkesinambungan. Bukan bekerja pada saat ada kepentingan-kepentingan yang menyesatkan. Pemimpin harus mengedepankan kepentingan bersama yaitu semata-mata untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang dapat melahirkan pelanjut kepepimpinannya.
   Karena itulah pemimpin itu harus terus belajar dari siapapun karena para pemimpin itu pada hakekatnya adalah pelayan rakyat. Bukan di layani rakyat. Pemimpin harus pandai berinovasi, karena dengan inovasi itu pemimpin semakin di cintai oleh rakyat yang dipimpinnya. Dizaman sekarang ini para pemimpin memiliki kecenderungan mau lebih banyak di layani daripada melayani. Pemmpin itu harus bertindak cepat dalam mengatasi masalah-masalah yang terjadi ditengah-tengah masyarakat.
 
     Pemimpin Dambaan Rakyat
   Saat ini memperoleh pemimpin yang mau terus berinteraksi dengan rakyat sangatlah susah. Menjadi pemimpin sesungguhnya adalah menjadi pelayan rakyat. Tapi sungguh jauh saat ini para pemimpin sebaliknya menjadi pemimpin yang di layani oleh rakyat. Padahal rakyatlah yang sesungguhnya menjadi orang yang patut dilayani.
   Suatu kasus ada seorang pemimpin yang tidak mau menemui rakyatnya padahal dengan dialah sesungguhnya dia ingin ketemu. Tapi karena alasan kesibukan dia lebih memilih untuk tidak menemui rakyatnya. Nah, seungguhnya ini tidak boleh terjadi dalam kepemimpinannya. Saat ini krisis kepemimpinan di negara ini sudah bukan barang langka. Karena itu menjadi pemimpin yang dicintai oleh rakyat sangat di perlukan saat-saat ini.
   Kemerosotan akhlak para pemimpin yang terjerat kasus korupsi. Yang terus terjadi tanpa ada ujungnya. Entah sampai kapan? Belum lagi selesai kasus korupsi pempimpin yang satu muncul lagi kasus korupsi pemimpin yang lain. Sudah banyak solusi yang dilakukan oleh pemerintah kita melalui lembaga yang bernama komisi pemberantasan korupsi (KPK) tapi seiring dengan itu juga koruptor-koruptor baru terus bermunculan. Dari tingkat pusat sampai daerah. Barangkali perlu kita meniru apa yang di lakukan oleh perdana menteri (PM) Cina beberapa tahun yang lalu apa yang dilakukan saat itu sungguh sangat mencengangkan. Karena pada saat itu PM Cina menyiapkan satu peti mati untuk dirinya seandainya dia melakukan korupsi.
 
      Momentum Ramadhan & Pemimpin Berkarakter
   Menjadi pemimpin yang berkarakter adalah suatu keharusan. Terlebih pulau ini sudah sangat dikenal dengan semboyan. Pulau seribu masjid sejuta pesantren. Kedepan rakyat berharap para pemimpin bukan hanya minta dilayani oleh rakyat tapi harus menjadi orang yang melayani rakyat yaitu dengan cara memperjuangkan apa yang menjadi kepentingan-kepentingannya.
   Banyak sejarah-sejarah besar yang terjadi didalam bulan suci Ramadhan. Indonesia tercinta ternyata juga berhasil meraih kemerdekaan didalam bulan mulia ini. Peristiwa penaklukan Andalusia yang dilakukan oleh panglima perang Thariq bin Ziyad juga terjadi pada bulan Ramadhan tahun ke 92 Hijriyah. Dan dalam sejarah Islam juga kita kenal dengan fathu makkah yang juga terjadi pada bulan Ramadhan. Dan masih banyak peristiwa-peristiwa besar yang terjadi dalam bulan Ramadhan.
   Nah momentum Ramadhan tahun ini barangkali sangat tepat merubah perilaku kita sebagai seorang pemimpin yang kurang dicintai menjadi lebih dicintai oleh rakyat. Tentu disini dengan mengencangkan kuantitas dan kualitas nilai ibadah kita dihadapan Allah SWT, ibadah qiyam Ramadhan (tarawih) kita, tilawah Al qur’an, melanggengkan bersedekah kepada ornag yang papa. Dan kebaikan-kebaikan lain yang dapat mendekatkan diri kita kepada Allah SWT.
   Sehingga harapan kita menjadi seorang pemimpin teladan bukan hanya wacana. Tapi insyaAllah ini benar-benar akan menjadi kenyataan sesuai dengan fakta sejarah yang terjadi didalam bulan Ramadhan bahwa peristiwa-peristiwa penting terjadi dalam bulan mulia ini. Sehingga benar-benar nanti ketika terpilih menjadi pemimpin yang dipilih oleh rakyat dapat menjadi teladan dalam melakukan amal-amal kebaikan untuk mewujudkan perubahan-perubahan yang lebih baik.
   Sehingga dengan tercapainya predikat takwa yang telah dijanjikan oleh Allah kepada hamba-hambaNya. Tidak menjadi hal yang mustahil lagi bagi kita. Sehingga apa yang dijanjikan Allah didalam Al Qur’anNya. Yaitu suatu negeri yang apabila penduduknya adalah orang-orang yang taat dan beriman kepada Allah SWT., maka benar-benar Allah akan menganugerahkan kepada para penduduk negeri atau kota itu dengan kebaikan yang banyak (keberkahan).
   Sebagai renungan Firman Allah SWT., dalam Qur’an Surat Al A’raf ayat 96 yaitu: “Seandainya pendududk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit” InsyaAllah!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar